Arsip untuk ‘Patung Dewa’ Kategori

Patung Dewa

Januari 19, 2009

Patung adalah bentuk tiruan orang, hewan, dan sebagainya. Seperti telah kita ketahui dari penjelasan candi, (dalam agama Hindu) bahwa raja yang sudah wafat dianggap telah menyatu dengan dewanya dan dibuatkan sebuah patung. Hal ini bertujuan untuk menghormati sang raja. Patung ini menjadi arca induk di dalam candi. Biasanya sebuah candi itu memuat berbagai buah patung dewa-dewa lainnya.

Dengan demikian seni pahat patung erat hubungannya dengan keagamaan. Patung-patung yang dibuat menggambarkan dewa ataupun dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa yang lain, maka setiap arca mempunyai tanda-tandanya sendiri. Tanda-tanda ini dinamakan laksana atau ciri.

Patung-patung agama Hindu:

Patung Dewa Siwa

Patung Dewa Siwa

a. Siwa sebagai Mahadewa, laksananya: Ardhacandrakapala, yaitu bulan sabit di bawah tengkorak, yang terdapat pada mahkota, mata ketiga di dahi, upawita ular naga, cawat kulit harimau yang dinyatakan dengan lukisan kepala serta ekor harimau pada kedua pahanya, tangannya 4 masing-masing memagang camara (penghalau lalat), aksamala (tasbih), kamandalu (kendi yang bersisi air penghidupan), dan trisula (tombak yang ujungnya bercabang tiga). Siwa mempunyai kendaraan sendiri yaitu Lembu Nandi;

b. Siwa sebagai Mahaguru atau Mahayogi, laksananya: kamandalu dan trisula, perutnya gendut, berkumis panjang, dan berjenggot runcing;

c. Siwa sebagai Mahakala, rupanya menakutkan seperti raksasa, ia bersenjatakan gada;

d. Siwa sebagai Bhairawa lebih menakutkan lagi. Ia berhiaskan rangkaian tengkorak, tangan satunya memegang mangkuk dari tengkorak dan tangan lainnya sebuah pisau. Kendaraannya bukan Nandi seperti biasa melainkan serigala. Sering pula ia dilukiskan berdiri di atas bangkai dan lapik dari tengkorak-tengkorak;

Patung Dewi Durga

Patung Dewi Durga

e. Durga, isteri Siwa, biasanya dilukiskan sebagai Mahisasuramardini. Ia berdiri di atas seekor lembu yang ia taklukkan. Lembu ini adalah raksasa (asura) yang menyerang kayangan dan dibasmi oleh Durga. Durga bertangan 8, 10, atau 12, masing-masing tangannya memegang senajata. Sebagai isteri Mahakala, Durga bernama Kali, dan sebagai isteri Bahirawa ia bernama Bhairawi. Dalam kedua bentuk ini ia sangat menakutkan. Sering sekali Durga diberi kendaraan sendiri, yaitu singa;

Patung Ganesha Karang Kates

Patung Ganesha Karang Kates

Patung Ganesha dalam posisi duduk

Patung Ganesha dalam posisi duduk

f. Ganesha, merupakan anak Siwa dewa yang berkepala gajah yang disembah sebagai dewa ilmu pengetahuan dan dewa penyingkir rintangan-rintangan. Patung Ganesha biasanya digambarkan duduk. Namun, di Karang Kates atau yang lebih dikenal dengan Ganesha Karang Kates, ia digambarkan berdiri.

g. Kartikeya (Skanda atau Kumara), juga merupakan anak Siwa, sebagai dewa yang selalu digambarkan sebagai kanak-kanak naik merak dan yang mempunyai kedudukan sebagai dewa perang.

Patung Wisnu Naik Garuda

Patung Wisnu Naik Garuda

h. Wisnu, laksananya adalah bertangan empat yang masing-masing memegang gada, cakra (cakram), sangkha (kerang bersayap), dan dua buah atau kuncup teratai. Kendaraanya adalah Garuda, sedangkan isterinya adalah Sri atau Laksmi (Dewi Bahagia);

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.metmuseum.org/toah/images/h2/h2_36.96.3.jpg&imgrefurl=http://www.metmuseum.org/TOAH/ho/06/sse/ho_36.96.3.htm&usg=__PHktsZFfkpCh-QIGKRbDy52IyOg=&h=654&w=300&sz=50&hl=id&start=5&tbnid=S25s1XXfQxkQfM:&tbnh=138&tbnw=63&prev=/images%3Fq%3DPatung%2BBrahma%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG)

Patung Brahma (sumber: h//www.metmuseum.org/toah/images)

i. Brahma, mudah dikenal karena ia selalu digambarkan berkepala empat. Tangannya empat pula, dan yang dua dibelakang memegang aksmala dan camara. Kendaraanya adalah hangsa, dan isterinya adalah Saraswati (Dewi Kesenian dan Kecantikan);

j. Kuwera, dewa kekayaan, digambarkan duduk dikelilingi oleh periuk-periuk berisi harta. Perutnya gendut, tangan kirinya memegang pundi-pundi dari binatang semacam tupai dan tangan kanannya memegang sebuah limau. Isteri Kuwera adalah Hariti, yaitu dewi yang menggambarkan kekeyaan anak. Kuwera dan Hariti juga dipuja dalam agama Buddha.

Patung agama Buddha:

Dalam agama Buddha dikenal akan adanya Dhyani-Buddha, Manusi-Buddha, dan Dhyani Bodhisattwa. Dhyani-Buddha dan Manusi-Buddha patungnya sama saja, dan hanya dapat dibedakan dalam hubungannya dengan lain-lain petunjuk. Arca Buddha pada umumnya pun semua sama, sangat sederhana tanpa hiasan yang mencolok seperti pada arca agama Hindu. Ciri-cirinya: memakai jubah, rambutnya sellau keriting, di atas kepalanya ada tonjolan seperti sanggul yang dinamakan usnisa, dan di antara keningnya ada semacam jeraway yang disebut urna.

Dewa mana yang digambarkan dalam suatu Arca Buddha hanyalah dapat diketahui dari mudra (sikap tangannya) saja. Yaitu:

a. Wairocana, penguasa zenith, mudranya dharmacakra, yaitu sikap tangan memutar roda dharma;

Wairocana

Wairocana (sumber: http://panjalu.net/)

b. Aksobya, penguasa timur, mudranya bhumisparca, yaitu sikap tangan memanggil bumi sebagai saksi (waktu Buddha digoda oleh Mara di bawah pohon bodhi);

Aksobya

Aksobya (sumber: http://panjalu.net/)

c. Amoghasidi, penguasa utara, mudranya abhaya, yaitu sikap tangan menentramkan;

Amoghasidi

Amoghasidi (sumber: http://panjalu.net/)

d. Amitabha, penguasa barat, Buddha dunia sekarang, mudranya dhyana, yaitu sikap tangan bersemedi;

Amithaba

Amithaba (sumber: http://panjalu.net/)

e. Ratnasambhawa, penguasa selatan, mudranya wara, yaitu sikap tangan memberi anugerah.

Ratnasambhawa

Ratnasambhawa (sumber: http://panjalu.net/)

Dhyani-Bodisattwa selalu digambarkan berpakaian kebesaran seperti raja. Laksana untuk Awalokiteswara adalah sebuah arca Amitabha di mahkotanya. Sebagai Padmapani ia memegang sebatang bunga teratai merah di tangannya. Laksana Maitreya adalah sebuah stupa di mahkotanya.

Sama halnya dengan candi, patung-patung dewa yang ada di Jawa Tengah dan di Jawa Timur juga memiliki perbedaan. Pada umumnya di Jawa Tengah arcanya sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya sesuai dengan apa yang dicita-citakan orang. Pada umunya di Jawa Timur, arcanya agak kaku, dengan sengaja disesuaikan dengan maksud yang      sesungguhny, yaitu menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat. Sifat kewedaannya hanya dinyatakan dengan laksana-laksana dan prabha (lingkaran cahaya yang bersinar dari kepala atau tubuh).


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.