Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘pasir awi’

Prasasti

Januari 19, 2009

Prasasti bukan sekedar batu, tetapi juga batu yang bisa bersuara. Kenapa bisa demikian? Hal ini dikarenakan prasasti memuat informasi tertulis. Biasanya prasasti-prasasti itu merupakan peringatan-peringatan yang dibuat oleh para raja untuk daerah kekuasaannya. Selain itu berisi tentang silsilah, sistem ketatanegaraan suatu kerajaan. Prasasti merupakan bukti otentik tentang adanya suatu kerajaan. Prasasti biasanya menggunakan bahasa sanksekerta dan bahasa melayu kuno. Huruf yang dipakai biasanya huruf pallawa. Penulisannya ada yang berirama India dan seperti puisi.

Beberapa prasasti yang ditemukan di Indonesia:

a. Prasasti Kutai

Di Kutai ditemukan prasasti yang dipahatkan di tiang batu yang disebut Yupa. Sampai saat ini ada tujuh buah yupa yang telah ditemukan. Prasasti-prasasti tersebut berisi tentang raja yang menguasai Kutai. Raja yang terkenal di Kutai kemungkinan adalah Mulawarman, seperti yang disebutkan di dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Kutai tersebut. Dalam prasasti yang ditemukan tersebut dikemukakan tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh Mulawarman. Prasasti atau yupa tersebut sedikit banyak telah memuat informasi yang dibutuhkan seorang sejarawan untuk melakukan sebuah penyelidikan.

b. Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini sebagai bukti tentang adanya sebuah kerajaan yang bernama Tarumanegara. Prasasti ini ditemukan di pinggir Sungai Ciaruteun, dekat muaranya dengan Cisadane. Prasasti ini mempunyai ciri lukisan labah-labah dan tapak kaki yang dilukiskan di atas hurufnya. Prasasti ini terdiri dari empat baris, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh. Prasasti ini berisi tentang pujian terhadap Raja Purnawarman yang gagah berani dan dikatakan seperti Dewa Wisnu.

c. Prasasti Kebonkopi

Terdapat hal yang menarik dalam prasasti yang ditemukan di Kampung Muara Hilir, Cibungbulang. Hal yang tersebut adalah adanya dua tapak kaki gajah yang disamakan seperti tapak kaki gajah Airawata. Prasasti ini juga berirama anustubh, namun huruf-hurufnya lebih kecil dibandingkan prasasti yang lain. Tulisan-tulisan dalam prasasti sudah agak kabur sehingga sulit diterjemahkan dan maknanya sulit diungkap.

d. Prasasti Tugu

Merupakan prasasti yang terpanjang yang ditemukan dari semua peninggalan-peninggalan Purnawarman. Sama dengan prasasti yang lain, prasasti Tugu ini berbentuk puisi anustubh yang tulisannya dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang secara melingkar. Beberapa hal yang menarik dari prasasti ini adalah pertama, disebutkan dalam prasasti itu ada dua sungai yang terkenal juga di Panjab yaitu Chandrabhaga dan Gomati, yang tentu saja menimbulkan berbagai penafsiran para sejarawan. Kedua, prasasti ini merupakan satu-satunya prasasti Purnawarman yang menyebutkan peninggalan, meskipun tidak lengkap. Ketiga, dalam prasasti ini disebutkan adanya upacara selamatan yang disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan. Keempat, selain Purnawarman ada dua nama yang disebutkan dalam prasasti ini, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui siapa sebenarnya Purnawarman itu.

e. Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten

Kedua prasasti ini sama-sama menggunakan huruf ikal yang sampai saat ini belum dapat dibaca. Sama seperti prasasti Ciaruteun, kedua prasasti ini juga ada gambar telapak kaki.

f. Prasasti Lebak

Ditemukan di Lebak, di pinggir Sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa, terdiri dari dua baris huruh yang merupakan satu sloka dalam metrum anustubh. Isi dari prasasti ini merupakan pujian kepada Purnawarman sebagai panji seluruh raja, keberanian, keagungan, dan keperwiraan sesungguhnya dari seluruh raja dunia.

g. Prasasti Kedudukan Bukit

Prasasti Kedudukan Bukit ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang. Prasasti ini berangka tahun 628 Masehi. Prasasti ini berhuruf pallawa dan berbahasa Melayu kuno. Jumlahnya hanya 10 baris. Mengenai isi prasasti terdapat perbedaan antara para sejarawan yaitu mengenai adanya prasasti tersebut sebagai peringatan pendirian Sriwijaya atau sebagai peringatan kemenangan Sriwijaya terhadap Kerajaan Melayu.

h. Prasasti Talang Tuo

Prasasti ini ditemukan di daerah Talang Tuo sebelah barat Kota Palembang. Prasasti Talang Tuo terdiri dari 14 baris dalam bahasa Melayu Kuno dan berhuruf Pallawa. Angka tahunnya adalah 606 Saka. Ini prasasti tersebut mengenai pembuatan kebun Sriksetra atas perintah Punta Hyang Sri Jayanasa, untuk kemakmuran semua makhluk. Selain itu juga doa dan harapan yang menunjukkan sifat agama Buddha.

i. Prasasti Telaga Batu

Prasasti ini juga berbahasa Melayu kuno dan berhuruf Pallawa. Pada bagian atas prasasti ini, terdapat hiasan tujuh kepala ular cobra berbentuk pipih dengan mahkota berbentuk permata bulat. Lehernya mengembang dengan hiasan kalung. Hiasan ular cobra ini bersatu dengan permukaan batu datar dibagian belakang. Jumlah barisnya ada 28 dalam keadaan sangat aus, bahkan sebagian tidak dapat dibaca. Di bawah prasasti ini ada pancuran seperti halnya yoni. Dalam prasasti ini terdapat data yang memuat penyusunan ketatanegaraan Sriwijaya.

j. Prasasti Kota Kapur

Ditemukan di dekat Sungai Menduk, di Pulau Bangka. Jenis batu yang digunakan berbeda dengan jenis batu yang terdapat di Pualu Bangka. Karena hal itu, kemungkinan prasasti ni dibawa dari luar. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu kuno dan huruf yang digunakan adalah huruf pallawa. Isi dari prasasti ini adalah kutukan-kutukan untuk mereka yang berbuat jahat, tidak tunduk dan setia kepada raja akan celaka. Selain itu ada keterangan penting yaitu tentang usaha Sriwijaya untuk menaklukkan Bhumi Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya. Angka tahunnya 608 Saka.

k. Prasasti Karang Berahi

Ditemukan di tepi Sungai Merangin yang merupakan cabang Sungai Batang Hari di Jambi Hulu. Prasasti ini juga berisi kutukan-kutukan. Yang menarik dari prasasti ini adalah baris 1-4 menggunakan dialek yang berbeda dengan baris selanjutnya.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.