Arsip untuk ‘Peninggalan Bangunan’ Kategori

Prasasti

Januari 19, 2009

Prasasti bukan sekedar batu, tetapi juga batu yang bisa bersuara. Kenapa bisa demikian? Hal ini dikarenakan prasasti memuat informasi tertulis. Biasanya prasasti-prasasti itu merupakan peringatan-peringatan yang dibuat oleh para raja untuk daerah kekuasaannya. Selain itu berisi tentang silsilah, sistem ketatanegaraan suatu kerajaan. Prasasti merupakan bukti otentik tentang adanya suatu kerajaan. Prasasti biasanya menggunakan bahasa sanksekerta dan bahasa melayu kuno. Huruf yang dipakai biasanya huruf pallawa. Penulisannya ada yang berirama India dan seperti puisi.

Beberapa prasasti yang ditemukan di Indonesia:

a. Prasasti Kutai

Di Kutai ditemukan prasasti yang dipahatkan di tiang batu yang disebut Yupa. Sampai saat ini ada tujuh buah yupa yang telah ditemukan. Prasasti-prasasti tersebut berisi tentang raja yang menguasai Kutai. Raja yang terkenal di Kutai kemungkinan adalah Mulawarman, seperti yang disebutkan di dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di Kutai tersebut. Dalam prasasti yang ditemukan tersebut dikemukakan tentang kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh Mulawarman. Prasasti atau yupa tersebut sedikit banyak telah memuat informasi yang dibutuhkan seorang sejarawan untuk melakukan sebuah penyelidikan.

b. Prasasti Ciaruteun

Prasasti ini sebagai bukti tentang adanya sebuah kerajaan yang bernama Tarumanegara. Prasasti ini ditemukan di pinggir Sungai Ciaruteun, dekat muaranya dengan Cisadane. Prasasti ini mempunyai ciri lukisan labah-labah dan tapak kaki yang dilukiskan di atas hurufnya. Prasasti ini terdiri dari empat baris, ditulis dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh. Prasasti ini berisi tentang pujian terhadap Raja Purnawarman yang gagah berani dan dikatakan seperti Dewa Wisnu.

c. Prasasti Kebonkopi

Terdapat hal yang menarik dalam prasasti yang ditemukan di Kampung Muara Hilir, Cibungbulang. Hal yang tersebut adalah adanya dua tapak kaki gajah yang disamakan seperti tapak kaki gajah Airawata. Prasasti ini juga berirama anustubh, namun huruf-hurufnya lebih kecil dibandingkan prasasti yang lain. Tulisan-tulisan dalam prasasti sudah agak kabur sehingga sulit diterjemahkan dan maknanya sulit diungkap.

d. Prasasti Tugu

Merupakan prasasti yang terpanjang yang ditemukan dari semua peninggalan-peninggalan Purnawarman. Sama dengan prasasti yang lain, prasasti Tugu ini berbentuk puisi anustubh yang tulisannya dipahatkan pada sebuah batu bulat panjang secara melingkar. Beberapa hal yang menarik dari prasasti ini adalah pertama, disebutkan dalam prasasti itu ada dua sungai yang terkenal juga di Panjab yaitu Chandrabhaga dan Gomati, yang tentu saja menimbulkan berbagai penafsiran para sejarawan. Kedua, prasasti ini merupakan satu-satunya prasasti Purnawarman yang menyebutkan peninggalan, meskipun tidak lengkap. Ketiga, dalam prasasti ini disebutkan adanya upacara selamatan yang disertai dengan seribu ekor sapi yang dihadiahkan. Keempat, selain Purnawarman ada dua nama yang disebutkan dalam prasasti ini, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui siapa sebenarnya Purnawarman itu.

e. Prasasti Pasir Awi dan Prasasti Muara Cianten

Kedua prasasti ini sama-sama menggunakan huruf ikal yang sampai saat ini belum dapat dibaca. Sama seperti prasasti Ciaruteun, kedua prasasti ini juga ada gambar telapak kaki.

f. Prasasti Lebak

Ditemukan di Lebak, di pinggir Sungai Cidanghiang, Kecamatan Munjul, Kabupaten Pandeglang, Banten. Prasasti ini menggunakan huruf Pallawa, terdiri dari dua baris huruh yang merupakan satu sloka dalam metrum anustubh. Isi dari prasasti ini merupakan pujian kepada Purnawarman sebagai panji seluruh raja, keberanian, keagungan, dan keperwiraan sesungguhnya dari seluruh raja dunia.

g. Prasasti Kedudukan Bukit

Prasasti Kedudukan Bukit ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang. Prasasti ini berangka tahun 628 Masehi. Prasasti ini berhuruf pallawa dan berbahasa Melayu kuno. Jumlahnya hanya 10 baris. Mengenai isi prasasti terdapat perbedaan antara para sejarawan yaitu mengenai adanya prasasti tersebut sebagai peringatan pendirian Sriwijaya atau sebagai peringatan kemenangan Sriwijaya terhadap Kerajaan Melayu.

h. Prasasti Talang Tuo

Prasasti ini ditemukan di daerah Talang Tuo sebelah barat Kota Palembang. Prasasti Talang Tuo terdiri dari 14 baris dalam bahasa Melayu Kuno dan berhuruf Pallawa. Angka tahunnya adalah 606 Saka. Ini prasasti tersebut mengenai pembuatan kebun Sriksetra atas perintah Punta Hyang Sri Jayanasa, untuk kemakmuran semua makhluk. Selain itu juga doa dan harapan yang menunjukkan sifat agama Buddha.

i. Prasasti Telaga Batu

Prasasti ini juga berbahasa Melayu kuno dan berhuruf Pallawa. Pada bagian atas prasasti ini, terdapat hiasan tujuh kepala ular cobra berbentuk pipih dengan mahkota berbentuk permata bulat. Lehernya mengembang dengan hiasan kalung. Hiasan ular cobra ini bersatu dengan permukaan batu datar dibagian belakang. Jumlah barisnya ada 28 dalam keadaan sangat aus, bahkan sebagian tidak dapat dibaca. Di bawah prasasti ini ada pancuran seperti halnya yoni. Dalam prasasti ini terdapat data yang memuat penyusunan ketatanegaraan Sriwijaya.

j. Prasasti Kota Kapur

Ditemukan di dekat Sungai Menduk, di Pulau Bangka. Jenis batu yang digunakan berbeda dengan jenis batu yang terdapat di Pualu Bangka. Karena hal itu, kemungkinan prasasti ni dibawa dari luar. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu kuno dan huruf yang digunakan adalah huruf pallawa. Isi dari prasasti ini adalah kutukan-kutukan untuk mereka yang berbuat jahat, tidak tunduk dan setia kepada raja akan celaka. Selain itu ada keterangan penting yaitu tentang usaha Sriwijaya untuk menaklukkan Bhumi Jawa yang tidak tunduk kepada Sriwijaya. Angka tahunnya 608 Saka.

k. Prasasti Karang Berahi

Ditemukan di tepi Sungai Merangin yang merupakan cabang Sungai Batang Hari di Jambi Hulu. Prasasti ini juga berisi kutukan-kutukan. Yang menarik dari prasasti ini adalah baris 1-4 menggunakan dialek yang berbeda dengan baris selanjutnya.

Patung Dewa

Januari 19, 2009

Patung adalah bentuk tiruan orang, hewan, dan sebagainya. Seperti telah kita ketahui dari penjelasan candi, (dalam agama Hindu) bahwa raja yang sudah wafat dianggap telah menyatu dengan dewanya dan dibuatkan sebuah patung. Hal ini bertujuan untuk menghormati sang raja. Patung ini menjadi arca induk di dalam candi. Biasanya sebuah candi itu memuat berbagai buah patung dewa-dewa lainnya.

Dengan demikian seni pahat patung erat hubungannya dengan keagamaan. Patung-patung yang dibuat menggambarkan dewa ataupun dewi. Untuk membedakan dewa yang satu dengan dewa yang lain, maka setiap arca mempunyai tanda-tandanya sendiri. Tanda-tanda ini dinamakan laksana atau ciri.

Patung-patung agama Hindu:

Patung Dewa Siwa

Patung Dewa Siwa

a. Siwa sebagai Mahadewa, laksananya: Ardhacandrakapala, yaitu bulan sabit di bawah tengkorak, yang terdapat pada mahkota, mata ketiga di dahi, upawita ular naga, cawat kulit harimau yang dinyatakan dengan lukisan kepala serta ekor harimau pada kedua pahanya, tangannya 4 masing-masing memagang camara (penghalau lalat), aksamala (tasbih), kamandalu (kendi yang bersisi air penghidupan), dan trisula (tombak yang ujungnya bercabang tiga). Siwa mempunyai kendaraan sendiri yaitu Lembu Nandi;

b. Siwa sebagai Mahaguru atau Mahayogi, laksananya: kamandalu dan trisula, perutnya gendut, berkumis panjang, dan berjenggot runcing;

c. Siwa sebagai Mahakala, rupanya menakutkan seperti raksasa, ia bersenjatakan gada;

d. Siwa sebagai Bhairawa lebih menakutkan lagi. Ia berhiaskan rangkaian tengkorak, tangan satunya memegang mangkuk dari tengkorak dan tangan lainnya sebuah pisau. Kendaraannya bukan Nandi seperti biasa melainkan serigala. Sering pula ia dilukiskan berdiri di atas bangkai dan lapik dari tengkorak-tengkorak;

Patung Dewi Durga

Patung Dewi Durga

e. Durga, isteri Siwa, biasanya dilukiskan sebagai Mahisasuramardini. Ia berdiri di atas seekor lembu yang ia taklukkan. Lembu ini adalah raksasa (asura) yang menyerang kayangan dan dibasmi oleh Durga. Durga bertangan 8, 10, atau 12, masing-masing tangannya memegang senajata. Sebagai isteri Mahakala, Durga bernama Kali, dan sebagai isteri Bahirawa ia bernama Bhairawi. Dalam kedua bentuk ini ia sangat menakutkan. Sering sekali Durga diberi kendaraan sendiri, yaitu singa;

Patung Ganesha Karang Kates

Patung Ganesha Karang Kates

Patung Ganesha dalam posisi duduk

Patung Ganesha dalam posisi duduk

f. Ganesha, merupakan anak Siwa dewa yang berkepala gajah yang disembah sebagai dewa ilmu pengetahuan dan dewa penyingkir rintangan-rintangan. Patung Ganesha biasanya digambarkan duduk. Namun, di Karang Kates atau yang lebih dikenal dengan Ganesha Karang Kates, ia digambarkan berdiri.

g. Kartikeya (Skanda atau Kumara), juga merupakan anak Siwa, sebagai dewa yang selalu digambarkan sebagai kanak-kanak naik merak dan yang mempunyai kedudukan sebagai dewa perang.

Patung Wisnu Naik Garuda

Patung Wisnu Naik Garuda

h. Wisnu, laksananya adalah bertangan empat yang masing-masing memegang gada, cakra (cakram), sangkha (kerang bersayap), dan dua buah atau kuncup teratai. Kendaraanya adalah Garuda, sedangkan isterinya adalah Sri atau Laksmi (Dewi Bahagia);

http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.metmuseum.org/toah/images/h2/h2_36.96.3.jpg&imgrefurl=http://www.metmuseum.org/TOAH/ho/06/sse/ho_36.96.3.htm&usg=__PHktsZFfkpCh-QIGKRbDy52IyOg=&h=654&w=300&sz=50&hl=id&start=5&tbnid=S25s1XXfQxkQfM:&tbnh=138&tbnw=63&prev=/images%3Fq%3DPatung%2BBrahma%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG)

Patung Brahma (sumber: h//www.metmuseum.org/toah/images)

i. Brahma, mudah dikenal karena ia selalu digambarkan berkepala empat. Tangannya empat pula, dan yang dua dibelakang memegang aksmala dan camara. Kendaraanya adalah hangsa, dan isterinya adalah Saraswati (Dewi Kesenian dan Kecantikan);

j. Kuwera, dewa kekayaan, digambarkan duduk dikelilingi oleh periuk-periuk berisi harta. Perutnya gendut, tangan kirinya memegang pundi-pundi dari binatang semacam tupai dan tangan kanannya memegang sebuah limau. Isteri Kuwera adalah Hariti, yaitu dewi yang menggambarkan kekeyaan anak. Kuwera dan Hariti juga dipuja dalam agama Buddha.

Patung agama Buddha:

Dalam agama Buddha dikenal akan adanya Dhyani-Buddha, Manusi-Buddha, dan Dhyani Bodhisattwa. Dhyani-Buddha dan Manusi-Buddha patungnya sama saja, dan hanya dapat dibedakan dalam hubungannya dengan lain-lain petunjuk. Arca Buddha pada umumnya pun semua sama, sangat sederhana tanpa hiasan yang mencolok seperti pada arca agama Hindu. Ciri-cirinya: memakai jubah, rambutnya sellau keriting, di atas kepalanya ada tonjolan seperti sanggul yang dinamakan usnisa, dan di antara keningnya ada semacam jeraway yang disebut urna.

Dewa mana yang digambarkan dalam suatu Arca Buddha hanyalah dapat diketahui dari mudra (sikap tangannya) saja. Yaitu:

a. Wairocana, penguasa zenith, mudranya dharmacakra, yaitu sikap tangan memutar roda dharma;

Wairocana

Wairocana (sumber: http://panjalu.net/)

b. Aksobya, penguasa timur, mudranya bhumisparca, yaitu sikap tangan memanggil bumi sebagai saksi (waktu Buddha digoda oleh Mara di bawah pohon bodhi);

Aksobya

Aksobya (sumber: http://panjalu.net/)

c. Amoghasidi, penguasa utara, mudranya abhaya, yaitu sikap tangan menentramkan;

Amoghasidi

Amoghasidi (sumber: http://panjalu.net/)

d. Amitabha, penguasa barat, Buddha dunia sekarang, mudranya dhyana, yaitu sikap tangan bersemedi;

Amithaba

Amithaba (sumber: http://panjalu.net/)

e. Ratnasambhawa, penguasa selatan, mudranya wara, yaitu sikap tangan memberi anugerah.

Ratnasambhawa

Ratnasambhawa (sumber: http://panjalu.net/)

Dhyani-Bodisattwa selalu digambarkan berpakaian kebesaran seperti raja. Laksana untuk Awalokiteswara adalah sebuah arca Amitabha di mahkotanya. Sebagai Padmapani ia memegang sebatang bunga teratai merah di tangannya. Laksana Maitreya adalah sebuah stupa di mahkotanya.

Sama halnya dengan candi, patung-patung dewa yang ada di Jawa Tengah dan di Jawa Timur juga memiliki perbedaan. Pada umumnya di Jawa Tengah arcanya sangat indah, betul-betul menggambarkan seorang dewa dengan segala-galanya sesuai dengan apa yang dicita-citakan orang. Pada umunya di Jawa Timur, arcanya agak kaku, dengan sengaja disesuaikan dengan maksud yang      sesungguhny, yaitu menggambarkan seorang raja atau pembesar negara yang telah wafat. Sifat kewedaannya hanya dinyatakan dengan laksana-laksana dan prabha (lingkaran cahaya yang bersinar dari kepala atau tubuh).

Candi

Januari 19, 2009

Kata candi berasal dari kata candika, yang merupakan salah satu nama untuk Dewi Durga sebagai Dewi Maut. Jadi bangunan candi itu berhubungan dengan Dewi Maut. Terkait dengan itu candi memang merupakan bangunan untuk memuliakan atau memperingati orang yang telah wafat, terutama para raja atau orang-orang terkemuka. Oleh karena itu, ada pendapat bahwa candi berfungsi sebagai makam. Tetapi yang disimpan bukan jenazahnya, melainkan abu jenazah dan benda-benda lain yang disimpan di dalam Pripih. Namun, dalam perkembangannya banyak yang berpendapat bahwa candi adalah bangunan suci yang suci untuk pemujaan.

Candi-candi di Indonesia berbeda dengan candi-candi yang ada di India yang berfungsi sebagai tempat peribadatan atau kuil. Candi yang ada di Indonesia hanya mengambil unsur-unsur teknologi pembuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra, yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan. Untuk itu dilihat dari bentuk dasar maupun fungsi candi tersebut terdapat perbedaan. Bentuk dasar bangunan candi di Indonesia adalah punden berundak-undak yang merupakan salah satu peninggalan kebudayaan Megalithikum.

Bangunan Candi itu ada yang terkait dengan agama Hindu dan juga agama Buddha. Candi sebagai tempat pemakaman hanya terdapat dalam agama Hindu. Candi-candi Buddha dimaksudkan sebagai tempat pemujaan dewa saja. Di dalamnya tidak didapatkan Pripih. Candi agama Hindu, contohnya adalah Candi Prambanan, dan candi agama Buddha adalah Candi Borobudur. Kedua candi tersebut memiliki perbedaan, yaitu pada bagian puncak candi. Puncak candi agama Hindu berbentuk ratna. Sedangkan puncak candi agama Buddha berbentuk stupa.

Perbedaan candi juga didasarkan pada letaknya, yaitu candi di Jawa Tengah dan candi yang terdapat di Jawa T imur. Perbedaan bentuk-bentuk candi di kedua daerah tersebut antara lain:

Salah Satu Candi di Jawa Tengah

Salah Satu Candi di Jawa Tengah

Salah Satu Candi di Jawa Timur

Salah Satu Candi di Jawa Timur

a. bentuk bangunan candi Jawa Tengah tambun, sedangkan candi Jawa Timur lebih ramping;

b. candi Jawa Tengah atapnya berundak-undak, sedangkan candi Jawa Timur merupakan perpaduan tingkatan;

c. candi Jawa Tengah puncaknya berbentuk ratna atau stupa, sedangkan candi Jawa Timur berbentuk kubus;

d. gawang pintu dan relung candi Jawa Tengah berhiaskan kala makara, sedangkan candi Jawa Timur makaranya tidak ada, dan pintu serta relung hanya ambang atasnya saja yang diberi kepala kala;

e. candi Jawa Tengah reliefnya timbul agak tinggi dan lukisannya naturalisme, sedangkan candi Jawa Timur reliefnya tidak terlalu timbul dan lukisannya simbolis menyerupai wayang kulit;

f. candi Jawa Tengah, candi induk letaknya di tengah halaman, sedangkan candi Jawa Timur, candi induk letaknya di belakang halaman;

g. candi Jawa Tengah kebanyakan menghadap ke Timur, sedangkan candi Jawa Timur menghadap ke Barat;

h. candi Jawa Tengah kebanyakan terbuat dari batu andesit, sedangkan candi Jawa Timur terbuat dari bata atau terakota.

Candi sebagai bangunan terdiri dari tiga bagian penting, yaitu kaki candi, tubuh candi, dan atap. Setiap bagian candi tersebut memiliki arti dan tujuan tersendiri:

a. Kaki Candi

Kaki candi memili simbol sebagai dunia bawah tanah atau bhurloka. Denahnya bujur sangkar, dan biasanya agak tinggi. Serupa batur, dan dapat dinaiki melalui tangga yang menuju terus ke dalam bilik candi. Di dalam kaki candi itu, di tengah-tengah, ada sebuah perigi tempat menanam Pripih.

b. Tubuh Candi

Tubuh candi terdiri atas sebuah bilik yang berisi arca perwujudannya. Arca ini berdiri di tengah bilik, jadi tepat di atas perigi, dan menghadap ke arah pintu masuk candi. Dinding-dinding bilik di bagian luarnya di beri relung-relung yang diisi dengan arca-arca. Relung sebelah selatan di isi Arca Siwa, bagian utara Arca Durga, dan bagian belakang (Barat atau Timur tergantung arah menghadapnya candi) diisi Arca Ganesha.

c. Atap Candi

Atap candi adalah bagian atas candi yang menjadi simbol dunia atas atau swarloka. Atap candi selalu terdiri atas susunan tiga tingkatan, yang pada umunya semakin ke atas semakin kecil ukurannya yang bagian ujungnya di beri semacam ratna atau stupa. Di dalam atap candi terdapat rongga kecil yang dasarnya berupa batu segi empat berpahatkan gambar teratai merah sebagai takhta dewa. Pembuatan rongga itu ditujukan sebagai tempat bersemayam sementara sang dewa.

Candi-candi jenis Jawa Tengah di bagian utara, yang terpenting adalah:

a. Candi Gunung Wukir dekat Magelang, yang berhubungan dengan prasasti Canggal tahun 732;

b. Kelompok Candi Dieng, yang terdiri atas berbagai candi yang oleh penduduk diberi nama-nama wayang, seperti Bima, Samiaji, Arjuna, Gatutkoco, Semar, Srikandi, Dwarawati, dan sebagainya. Di dekat Candi Arjuna didapatkan sebuah prasasti yag bertanggal tahun 809;

c. Kelompok Candi Gedong Songo di lereng Gunung Ungaran;

d. Motif arsitektur yang sama juga terletak di Candi Badut dekat Malang, yang berhubungan dengan Prasasti Dinoyo tahun 760.

Candi-candi jenis Jawa Tengah di bagian selatan, yang terpenting adalah:

a. Candi Kalasan, dekat Yogyakarta yang didirikan dalma tahun 778;

b. Candi Sari, letaknya di dekat Candi Kalasan;

c. Candi Borobudur, yang dalam bentuk dasarnya merupakan punden berundak-undak tetapi disesuaikan dengan agama Buddha Mahayana untuk menggambarkan kamadhatu (bagian kaki yang tertimbun dan tertutup oleh susunan batu-batu rata), rupadhatu (bagian yang terdiri atas lorong-lorong dengan pagar-pagar tembok dan penuh hiasan serta relief-relief yang seluruhnya sampai 4 km panjangnya), dan arupadhatu (bagian atas yang terdiri atas batur-batur bundar, dengan lingkaran-lingkaran stupa yang semuanya tidak dihiasi sama sekali). Puncaknya berupa stupa yang besar sekali. Arca Buddha di Borobudur banyak sekali, diperkirakan berjumlah 505 buah;

Candi Borobudur

Candi Borobudur

d. Candi Mendut, di sebelah timur Candi Borobudur, yang di dalamnya memuat 3 arca batu besar sekali, yaitu Buddha diapit oleh Padmapani dan Wajrapani;

e. Kelompok Candi Sewu, di dekat desa Prambanan, yang terdiri atas sebuah candi induk dikelilingi oleh kurang lebih 250 buah candi-candi perwara yang tersusun dalam 4 baris;

f. Kelompok Candi Plaosan, di sebelah timur Candi Sewu, yang terdiri atas 2 buah candi induk dikelilingi oleh 2 baris stupa dan 2 baris candi perwara;

g. Kelompok Candi Loro Jonggrang di desa Prambanan. Yang disusun demikan sehingga candi induknya untuk Siwa diapit oleh candi-candi untuk Brahmana dan Wisnu dan dengan beberapa candi perwara lainnya merupakan pusat kelompok yang dikelilingi oleh lebih dari 200 buah candi perwara yang tersusun menjadi 4 baris.

Kompleks Candi Loro Jonggrang

Kompleks Candi Loro Jonggrang

Candi-candi jenis Jawa Timur, yang terpenting adalah:

a. Candi Kidal, letaknya dekat Malang, disebut juga Candi Anusapati;

b. Candi Jago, letaknya dekat Malang, di sebut juga Candi Wisnudharma;

Candi Jago

Candi Jago

c. Candi Singosari, letaknya dekat Malang, disebut juga Candi Kertanagara;

Candi Singasari

Candi Singasari

d. Candi Jawi, letaknya dekat Prigen;

e. Kelompok Candi Panataran, letaknya dekta Blitar, yang halamannya terbagi atas 3 bagian sedangkan candi induknya terletak di bagian belakang;

f. Candi Jabung, letaknya dekat Kraksaan, berupa bangunan stupa yang besar dan tinggi;

g. Kelompok Candi Muara Takus, letaknya di dekat Bangkinang, yang terdiri atas beberapa bangunan, di antaranya yang masih tegak sebuah stupa yang bulat tinggi;

h. Kelompok Candi-candi Gunung Tuo, letaknya di dekat Padang Sidempuan yang terdiri atas berbagai biaro sebagai candi-candi induk yang letaknya tersebar dan berjauhan. Dari arca-arca dan tulisan-tulisan yang didapatkan dapat diketahui dengan jelas sifat-sifatnya Tantrayana.

Bangunan-bangunan lain yang juga sering disebut sebagai candi adalah gapura-gapura. Masyarakat awam yang berada di sekitar bangunan memang menyebutnya sebagai candi karena bentunknya memang mirip candi, namun sebenarnya hanyalah berupa bangunan yang mirip pintu masuk menuju ke suatu tempat. Gapura mempunyai dua bentuk yang berbeda, yaitu padu raksa dan candi bentar. Pola padu raksa dapat kita lihat pada Candi Bajag Ratu yang bagian atas kedua candi tersebut menyatu. Jenis gapura yang kedua adalah yang bentuknya seperti bangunan candi yang dibelah dua, sebagai tempat jalan keluar masuk. Gapura yang semacam ini yang sering disebut sebagai candi, contohnya adalah Candi Waringin Lawang.

Candi Waringin Lawang

Candi Waringin Lawang

Candi Bajang Ratu

Candi Bajang Ratu

Selain itu, ada lagi bentuk bangunan candi yang dalam masyarakat juga disebut sebagai candi tetapi sifat dan wujudnya sangat berbeda. Bangunan-bangunan ini adalah pertirtaan (tempat pemandian suci) dan candi padas. Pertirtaan yang terkenal adalah Jolotundo dan Belahan di lereng Gunung Pananggungan dekat Mojokerto, Candi Tikus di Jawa Timur, Goa Gajah dekat Gianyar. Sedangkan candi padas yang terkenal adalah Gunung Kawi di Tampaksiring.

BP3 Jawa Timur)

Candi Tikus (sumber: BP3 Jawa Timur)


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.